'Sore di Tugu Pancoran' dan Mimpi Terakhir Bung Karno



Ini hari musikus kecintaan Indonesia, Iwan Fals, berulang-ulang tahun yang ke-59. Selama hayatnya, beberapa karya pria namanya asli Virgiawan Listanto ini sudah membangkitkan hati beberapa orang dari bermacam golongan.

Terknik Fundamental Permainan Over Under

'Bento' adalah karyanya yang dapat disebut fantastis, terkadang dinyanyikan dalam situasi enjoy di bar, terkadang digemakan untuk lagu perjuangan waktu demonstrasi.


Memaknai lagu-lagu Iwan Fals bukan sebatas hitam serta putih. Tetapi bila rajin membaca setiap bait syair lagunya, ayah dari mendiang musikus muda Galang Rambu Anarki ini ibarat punyai masa lalu tertentu mengenai satu tempat pada eranya.


"Sang Budi kecil kuyup menggigil


Meredam dingin tanpa ada jas hujan


Di simpang jalan Tugu Pancoran


Nantikan konsumen jajakan koran"


Membaca lirik lagu bertopik 'Sore di Tugu Pancoran' seolah ajak romantisme mengarah simpang jalanan di Tugu Pancoran yang makin ruwet serta macet.


Pilihan RedaksiJalan-jalan Virtual bersama-sama Tembang 'Lord' Didi Kempot


Sungai Terpendek di Dunia Berada di Sulawesi Tenggara


Haru dalam Penerbangan Pertama Israel ke Tanah Arab


Walaupun di sebelahnya sudah dibuat banyak gedung perkantoran serta apartemen dengan harga miliaran rupiah, tetapi rakyat kecil yang cari makan melalui berjualan koran, seperti Sang Budi Kecil, masih ada.


Tugu Pancoran sebenarnya adalah Monumen Patung Dirgantara atau yang terkenal disebutkan Patung Pancoran.


Tempatnya di seberang Wisma Aldiron Dirgantara, yang dahulunya adalah Tempat Besar TNI Angkatan Udara.


Patung berbentuk pemuda yang sedang menunjuk ke depan ini dapat disaksikan oleh beberapa orang yang baru tiba ke Jakarta sesudah datang dari Lapangan terbang Halim Perdanakusuma.


Pematung Edhi Sunarso yang sekaligus juga teman dekat Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno, dikasih kelebihan untuk membuat patung ini di tahun 1964-1965, dengan pertolongan dari Keluarga Arca Yogyakarta.


Bung Karno memberikan amanat pada Edhi Sunarso untuk membuat patung dengan topik keperkasaan, sebab waktu itu Indonesia sedang meningkatkan bagian dirgantaranya.


Kartika Desma, salah satunya pemandu Jakarta Good Guide, menjelaskan jika Bung Karno ingin pemuda serta pemudi Indonesia dapat seperkasa Yuri Gargarin, astronout Rusia, dalam soal kedirgantaraan.


"Bung Karno sampai jual salah satunya mobil pribadinya untuk menolong Edhi Sunarso menempatkan Tugu Pancoran di Jakarta," kata Kartika dalam tour virtual yang diadakan oleh Jakarta Good Guide pada Mei tempo hari.


Simbol keperkasaan Indonesia di bagian dirgantara yang menyongsong pendatang ke Jakarta. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)Setinggi 11 mtr., patung memiliki bahan perunggu ini ditempatkan di atas menara setinggi 27 mtr.. Berat keseluruhannya 11 ton.


Proses pengecorannya dilaksanakan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono serta penempatannya dilaksanakan oleh PN Hutama Karya dengan Ir. Sutami untuk arsitek eksekutor.


Tiap sisi patung dikerek manual dengan tangan pekerja serta tali sampai dipasang prima di udara.


Pembangunan patung sebagai salah satunya simbol kota Jakarta kecuali Monumen Nasional (Monas) ini pernah terhalang kejadian Pergerakan 30 September PKI di tahun 1965.


Sebelum kejadian G30SPKI meletus, Bung Karno sering memeriksa langsung proses pembangunan Tugu Pancoran. Hadirnya pasti menyusahkan team keamanan Istana Negara serta membuat macet lalulintas di sekelilingnya.


Tugu Pancoran sah berdiri di tahun 1970. Itu ialah monumen paling akhir yang dibuat atas keinginan Bung Karno sebelum wafat. Sayangnya, beliau tidak pernah lihat patung itu berdiri prima.


"Tanggal 21 Juni 1970, waktu Edhi Sunarso ada di tempat project, dia tidak menyengaja lihat iringan mobil mayat yang rupanya berisi jasad Bung Karno. Kemungkinan itu terakhirnya Bung Karno memandang Tugu Pancoran," tutur Kartika.


Bila sedang buka Google Images, terlihat beberapa foto kuno Tugu Pancoran, dimana monumen itu berdiri gagah ditengah-tengah kosongnya kota Jakarta.


Jangankan penjual kaki lima seperti Sang Budi Kecil, gedung perkantoran serta hotel saja tidak ada. Benar-benar panorama yang penuh nostalgia.


"Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu


Untuk satu mimpi yang sering ganggu tidurmu


Anak sekecil itu tidak pernah nikmati waktu


Diminta pecahkan karang loyo jarimu terkepal"


Postingan populer dari blog ini

said Donald Trump at his first address to the UN General Assembly on September 19.

Women's NGOs are actually altering the globe - as well as certainly not obtaining credit rating for it

Pay attention to physical brutality